Adupi, Yogyakarta- Fasilitas pelayanan Kesehatan (Fasyankes) seperti rumah sakit tentu memiliki limbah yang butuh pengelolaan lebih lanjut. Teknologi Inovasi Manajemen Daur Ulang Insan Sanitarian Indonesia (Timdis) di Yogyakarta telah memulai kerja sama pengelolaan limbah medis non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ini dengan sejumlah rumah sakit di Pulau Jawa dan luar Jawa.

Sedikitnya ada 200 Rumah Sakit yang bermitra dengan Timdis untuk dikelola limbah medis non B3 yang selama ini dimusnahkan begitu saja. Dalam mengelola limbah tersebut, Timdis tidak sendirian, ia mengajak mengajak mitranya seperti komunitas bank sampah, pengepul dan pemroses, hingga pabrik daur ulang untuk terlibat dalam pengelolaan limbah medis non B3 itu.

“Limbah rumah sakit non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ini, kami kelola untuk didaur ulang. Output-nya menjadi barang-barang non food contact yang memiliki nilai,” kata Arief Solihin, Direktur Utama PT Timdis Indonesia Dinamis ini kepada Adupi, 25 September 2020.

Inilah produk daur ulang limbah medis non B3.

Arief menjelaskan, volume limbah medis non B3 yang cukup besar ini sehingga memerlukan kerja kolaborasi dengan semua pihak untuk mengelolanya. Selain itu, Fasyankes juga telah memiliki SOP pemilahan dari sumbernya, sehingga limbah tersebut siap diambil dalam kondisi bersih dari sumbernya.

Ia mencontohkan, untuk satu rumah sakit, misalnya RSUP Sardjito Yogyakarta, volume limbah domestiknya mencapai 10-15 ton per bulan. Adapun limbah non B3 dari material plastik berbahan HDPE, LDPE dan PP sekitar 7 ton. Sebelumnya limbah tersebut dimusnahkan.

“Kami kelola 7 ton limbah non medis itu, setelah diolah menghasilkan sekitar 1,7 – 2 ton bijih plastik yang siap didistribusikan ke pabrik daur ulang untuk dijadikan berbagai macam barang yang non food contact,” kata Arief.

Limbah non B3 yang keluar dari RS itu kondisinya baik karea sudah dipilah dengan SOP yang ketat di ruang Fasyankes. Dengan begitu, menurut Arief, nilai limbah itu otomatis “naik kelas” menjadi bahan baku daur ulang yang bagus dibandingkan dengan sampah plastik yang dibuang ke landfill, yang kotor bercampur minyak, tanah, cat, dan sebagainya.

Fasyankes dengan SOP pemilahan limbah membuat kategori limbah menjadi kategori 1 dan 2. Limbah kategori 1 yakni limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dimusnahkan. Lalu kategori 2, limbah non B3.

Contoh limbah kategori 1 seperti radioaktif, kateter dan kain kasa, itu semuanya dimusnahkan. Sedangkan kategori 2 seperti botol infus bersih, botol hand sanitizer, botol handsoap, jerigen itu masuk ke jaringan daur ulang.

Barang-barang ini juga produk dari daur ulang limbah medis non B3.

Adapun sampah lainnya yang dihasilkan oleh rumah sakit seperti kertas, Timdis bermitra dengan pendaur ulang kertas untuk mengelola limbah tersebut. Sampah organik, ia bermitra dengan pengelola kompos untuk dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Arief berharap peran produsen, seperti farmasi yang menggunakan kemasan botol juga berkontribusi dalam penanganan limbah non medis ini. Selama ini, produsen farmasi belum tersentuh kewajibannya untuk bertanggung jawab terhadap limbahnya. Padahal dari satu Fasyankes saja, jumlah sampah yang dihasilkan mencapai 7 ton per bulan.

“Merujuk pada Undang-undang dan peraturan turunannya, produsen juga punya kewajiban EPR (Extended Producer Responsibility), tanggung jawab produsen Farmasi terhadap sampah yang dihasilkannya hingga kini belum terlihat,” kata Arief.

Ia juga berharap Pemerintah mendorong ekosistem daur ulang ini agar bisa meningkatkan tingkat daur ulang di Indonesia yang selama masih di bawah 10 persen. Caranya dengan betul-betul mengimplementasikan regulasi Pengelolaan Sampah.

Penulis: Eni Saeni
Foto: Dokumentasi Timdis