Pemulung itu pekerja mandiri dan pantang ngemis.

Adupi, Jakarta – Seorang pemulung di Karawang sedih. Wabah virus corona menjeratnya dalam ketidakberdayaan. Hasil mulungnya tidak laku. Banyak pabrik plastik tutup. Untuk bertahan hidup, ia hanya minum air putih.

Kondisi itu dialami Bu Yeti, pemulung di Karawang pada Rabu- Kamis pekan lalu. Beruntung, kisah itu sampai ke pengurus IPI Karawang yang kemudian diteruskan ke IPI Pusat. Ketum IPI Prispoly Lengkong begitu menerima kabar tersebut, langsung memerintahkan pengurus Karawang datang ke kantor IPI Pusat di Bantargebang untuk mengambil bantuan.

Maka, sebanyak 120 paket sembako pun meluncur ke Karawang karena kondisi kekurangan makanan juga dialami pemulung lainnya di kota “lumbung beras” itu.

“Jangan sampai ada pemulung yang kelaparan!” kata Prispoly Lengkong kepada pengurus IPI Karawang.

Beruntung sejak pertengahan April lalu, IPI Pusat telah menjaring bantuan dari para donatur dan perusahaan besar di Jakarta. Menurut Prispoly, penggalangan bantuan itu dilakukan setelah pihaknya mendapat laporan banyak pemulung kekurangan makanan.

Hasil pendataannya, tercatat 39 ribu pemulung di Jabodetabek yang membutuhkan bantuan, namun IPI hanya berhasil mengumpulkan dan mendistribusikan 5000 paket sembako dan perlengkapan sabun cuci tangan.

Bantuan itu disebar ke pemulung di DKI Jakarta 1000 paket sembako, meski jumlah pemulung ada 13 ribu. DI Bantargebang, didistribusikan 1000 paket sembako, meski kebutuhannya 2971 orang. Sisanya dikirim ke Depok, Bekasi, Garut, Bandung, Jateng, hingga Jatim.

“Untuk distribusi sembako ke Jabar, Jateng dan Jatim kami sewa truk,” ujar Prispoly.
Meski ada aturan work from home di masa covid-19 ini, pemulung tak bisa diam digubuk karena tak ada makanan di gubuk mereka. Sehingga mereka terpaksa keluar rumah dan tetap mulung.

“Kalau mereka tak dapat sampah, seringnya mereka dapat nasi bungkus dari pemberian para dermawan. Satu nasi bungkus itu kemudian dimakan rame-rame bersama keluarganya di gubuk. Pulang nggak bawa sampah, tapi dapat nasi bungkus,” ucap Prispoli.

Prispoly mengungkapkan, sejauh ini pemulung belum tersentuh Banpres atau bantuan presiden seperti halnya para driver ojek online. Beberapa kementerian, seperti Kementerian Koordinator Perekonomian dan Kementerian Sosial, Kementerian PUPR sudah ia ajukan permohonan bantuannya bahkan hingga ke KSP (kantor Staf Presiden). “Baru Kemen PUPR yang ngasih bantuan,” ujarnya.

Dalam kondisi sulit ini, pemulung terbiasa mandiri, kata Prispoly, pantang bagi pemulung untuk ngemis. Dalam kondisi harga sampah anjlog, mereka tetap mulung. Turunnya harga disebabkan banyak pabrik penggilingan plastik dan produsen tutup.

Kondisi pelapak hingga kini masih didatangi pemulung yang jual barang. Tapi pelapak sendiri tidak bisa jual barang, karena pabrik tutup. Akibatnya barang sampah numpuk. “Kalau nolak barang dari pemulung, kasihan pemulung nanti nggak makan, kalau beli terus uang juga terbatas, jadinya mundur kena, maju kena,” kata Prispoly.

Sementara itu, Asisten Deputi Pelestarian Lingkungan Hidup Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera yang dikonfirmasi perihal bantuan untuk pemulung, hingga berita ini ditulis belum bisa dihubungi.

Penulis: Eni Saeni