Adupi, Jakarta – Sampah plastik multilayer banyak dikecam mencemari lingkungan karena terindikasi bocor ke tanah, sungai hingga sungai. Sampah plastik jenis sachet, bungkus mie instan dinilai tak bernilai, sehingga jarang dipulung oleh pemulung.

Namun, di tangan para peneliti dan didukung oleh swasta, sampah plastik multilayer ini bisa digunakan untuk aspal plastik. Perusahaan konsruksi Wasco dan PT Chandara Asri Petrochemical Tbk., dan PT Samudera Montaz, perusahaan kemasan multilayer pada Sabtu, 29 Agustus 2020 melakukan uji coba aspal plastik di Jalan Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo di kampus UI, Depok seluas 241 meter persegi. UI sendiri sebagai pelaksana proyek tersebut.

Vice President, Corporate Relations and Sustainability PT Chandra Asri Edi Rivai menjelaskan, uji coba aspal plastik kali ini bertujuan untuk memperbanyak jenis plastik yang dapat digunakan sebagai campuran aspal, yang sebelumnya menggunakan sampah kantong kresek.

“Kali ini kami menggunakan cacahan sampah dari bungkus mie instan berbahan PP (Polypropylene) multilayer. Kami berjarap semakin banyak jenis sampah yang dapat digunakan, sehingga akan semakin banyak pula sampah plastik yang dapat dikelola menjadi campuran aspal dan tidak berakhir di TPA,” kata Edi Rivai kepada Adupi, Senin, 31 Agustus 2020.

Menurut Direktur Inaplas ini, jenis plastik yang saat ini banyak digunakan untuk aspal plasik adalah sampah plastik kantong Kresek (jenis HDPE). Riset dan implementasi aspal plastik ini dilakukan oleh Kementerian PUPR pada 2017 silam di beberapa jalan nasional di Indonesia.

Ia menjelaskan, sampah plastik yang digunakan dalam campuran aspal sekitar 5-6% dari aspal yang digunakan saat proses hot mixing. Chandra Asri bekerja sama dengan industri daur ulang, terutama dari anggota ADUPI (Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia) dalam penyediaan cacahan plastik.

Adapun biaya produksi dengan penggunaan sampah plastik dalam campuran aspal sedikit lebih mahal dibandingkan dengan aspal biasa. Hal itu karena biaya pengelolaan sampah, terutama plastik, di Indonesia masih sangat mahal akibat kondisi sampah yang masih tercampur.

Selain itu, cacahan plastik masih perlu dimasukan secara manual saat pencampuran aspal, sehingga menambah biaya produksi secara keseluruhan. Namun, perbedaan biaya tersebut akan tertutupi oleh biaya perawatan jalan yang lebih hemat karena waktu pakai aspal plastik lebih lama 1-2 tahun dibandingkan dengan aspal biasa.

Chandra Asri, menurut Edi juga mendorong Pemerintah Daerah untuk mengimplementasi penggunaan aspal plastik di wilayahnya masing-masing, seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Cilegon dan Tegal. Pemanfaatan sampah plastik menjadi campuran aspal ini diharapkan akan meningkatkan permintaan bahan baku sampah plastik.

Tak hanya itu, kebijakan yang diambil Pemerintah ke depan juga dapat lebih mengutamakan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan dan sosial masyarakat untuk mengembangkan konsep sirkular ekonomi berkelanjutan.

Penulis: Eni Saeni
Foto: Dokumentasi UI