Adupi, Jakarta – PT Samudera Montaz, perusahaan yang memproduksi kemasan makanan dari bahan multilayer berkomitmen mendukung daur ulang. Konsep daur ulang mengembalikan plastik ke dalam sistem ekonomi sirkular untuk kebaikan manusia.

“Dengan melakukan daur ulang, selain perusahaan kami terhindar dari mengotori lingkungan juga menghasilkan uang,” kata Yuri Zagloel, owner PT Samudera Montaz kepada Adupi, pada 1 September 2020.

Sebelumnya, bahan sisa produksi atau sampah plastik multilayer-non metalized yang diproduksi PT Samudera biasanya dijual ke pabrik daur ulang yang memproduksi tali rafia. Saat uji coba aspal plastik di kawasan Universitas Indonesia, perusahaannya juga menyediakan sampah multilayer sebagai campuran aspal untuk memperkuat ketahanan aspal.

Riset menyebutkan dengan penggunaan aspal plastik, ketahanan jalan lebih lama 1-2 tahun dibandingkan aspal biasa. Seperti diwartakan sebelumnya, pada Sabtu, 29 Agustus 2020, Universitas Indonesia bekerja sama dengan PT Chandra AsriPetrochemical dan PT Wasco, perusahaan dibidang konstruksi melakukan uji coba aspal plastik di Jalan Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo di kampus UI, Depok seluas 241 meter persegi.

Perusahaan ini menyediakan bahan baku sampah plastik multilayer sebagai campuran aspal plastik pada percobaan tersebut. Spek plastik yang dipakai adalah multi layer-non metalized, seperti bekas bungkus snack, mie instan dan sebagainya.

“Bahan plastik multi layer-non metalized selalu tersedia dipabrik kami karena merupakan bahan sisa produksi atau sampah,” kata Yuri, Komisaris Utama PT Samudera Montaz.

Ia sangat mendukung segala usaha yang dilakukan oleh akademisi atau penggiat lingkungan yang lebih mengutamakan mengembalikan sampah plastik pada sistem daur ulang. “Sampah plastik yang bisa dipakai untuk kebutuhan lain adalah sangat baik untuk didaur ulang, bukan dibuang,” ujarnya.

Beberapa peneliti memperkenalkan berbagai macam konsep daur ulang yang menjadikan sampah bermanfaat kembali. Selama ini, sampah plastik selalu dituduh sebagai pencemar lingkungan. Padahal sampah plastik tidak mungkin ada di sungai dan laut kalau bukan kita yang membuangnya.

Dengan pemikiran tersebut Yuri setuju bahwa harus ada edukasi secara terus menerus untuk mengubah pandangan masyarakat tentang sampah plastik yang harus dimanfaatkan untuk daur ulang. Sebab pandangan yang keliru selama ini mengenai sampah plastik harus diluruskan.

“Perusahaan, komunitas, akademisi bisa berkolaborasi untuk mengedukasi, memberi pelatihan memilah dan mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang,” kata Yuri.

Ia berharap, setelah pandemic Covid-19, pihaknya bisa secara intensif bertatap muka dengan warga dan komunitas untuk memberikan edukasi dan pelatihan tentang jenis-jenis plastik dan bagaimana mengelola plastik itu agar tak dibuang ke TPA.

Penulis: Eni Saeni
Foto: istimewa