Adupi, Jakarta – Ketika sejumlah Pemerintah Daerah menerapkan aturan pelarangan penggunaan single used plastik atau plastik sekali pakai untuk mengatasi masalah sampah, tidak demikian dengan Pemerintah Kota Tegal.

Kota Bahari ini merangkul semua pihak mulai dari komunitas, asosiasi, swasta (industri daur ulang), akademisi, hingga masyarakat untuk mengelola sampah menuju Tegal Bersih Sampah.

“Persoalan sampah bukan hanya masalah pemerintah semata, tapi persoalan kita semua dan kita harus berkolaborasi dengan semua pihak untuk bertanggung jawab secara aktif dan proporsional terhadap sampahnya,” kata Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono pada acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pengelolaan sampah antara Pemkot Tegal dengan Yayasan Kelola Sampah Indonesia (Yaksindo) pada zoominar, Selasa, 8 September 2020.

Program tersebut didukung oleh Asosiasi Daur Ulang Plastik Indoensia, PT Kemasan Ciptatama Sempurna, PT Trinseo Materials Indonesia, dan Green Indonesia Foundation (GIF).

Menurut Dedy, dengan ditandatanganinya MoU ini, Kota Tegal akan menjadi kota pertama di Indonesia yang mengimplementasikan program “Tegal Bersih Sampah” melalui program berbasis tata kelola sampah end-to-end dari hulu ke hilir. Program ini akan berhasil dengan penguatan kolaborasi pemerintah dengan komunitas, masyarakat, asosiasi, koperasi, akademisi, hingga industri daur ulang.

“Kami berusaha menyelesaikan permasalahan sampah dengan menerapkan tiga prinsip yaitu ketahanan energi, ketahanan pangan dan konservasi lingkungan,” ucap Wali Kota Dedy.

Kota Tegal melihat bahwa faktor utama tidak terkelolanya sampah di setiap daerah karena tidak seimbangnya volume sampah dengan kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola sampah. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, rata-rata kepasitas pemerintah daerah secara nasional anya mampu menangani sampah 29 persen dari total volume sampah.

Oleh karena itu, merujuk pada UU Pengelolaan Sampah, pengelolaan sampah harus dilakukan secara berkelanjutan dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

Dan, Kota Tegal dengan jumlah populasi 260 ribu penduduk ini memproduksi 250 ton sampah per hari. Dari jumlah tersebut 30 persen diantaranya adalah sampah plastik, namun yang bisa dikirim ke industri daur ulang hanya 10 persen, sisanya berakhir di TPA.

Melalui program kolaboratif ini, Dedy berharap persoalan sampah akan terkelola dengan baik. Kota ini akan memulai pengelolaan sampahnya di tingkat rumah tangga dan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Setiap rumah tangga akan diajarkan membuat kompos secara mandiri sehingga sampah organik selesai di rumah.

Adapun sampah non organik dipilah dan diambil secara terjadwal untuk didistribusikan ke industri daur ulang. Untuk sampah yang tidak masuk ke system daur ulang, akan diolah menjadi energi melalui mesin predator briket sampah.

“Tahap awal, kami akan mengolah 15 ton sampah setiap hari untuk dijadikan briket sebagai subtitusi batu bara yang kemudian akan disalurkan ke industri,” ucap Dedy.

Sementara itu, Direktur GIF Asroel Husein menyatakan bahwa pengelolan sampah di kota Tegal akan fokus mengaplikasikan UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolan Sampah (PS). “Kami akan fokus mengaplikasikan regulasi Pasal 12,13,15,21 dan 45 UUPS dalam mengelola sampah, salah satunya dengan metode penggunaan mesin Predator Briket Sampah,” kata Asroel pada acara tersebut.

Ketua Yaksindo Nur Rahmad Ahirullah atau biasa disapa Nara menambahkan, pihaknya akan melihat bagaimana UUPS benar-benar dijalankan di Kota Tegal. Mulai dari penerapan Pasal 12 tentang kewajiban rumah tangga mengelola sampah dengan infrastruktur pemilahan sampah. Pasal 13 tentang kewajiban pengelolaan sampah kawasan melalui mesin briket sampah yang hasilnya diserap oleh industri.

Lalu menjalankan Pasal 15 tentang tanggung jawab produsen pada sisa produknyan dan Pasal 21 tentang insentif dan disinsentif pengelolaan sampah oleh para pemangku kepentingan.

“Kami berharap pemerintah, masyarakat, produsen, dan swasta lainnya bergotong royong membantu pengelolaan sampah secara bertanggung jawab dan proporsional,” kata Nara.


Penulis: Eni Saeni
Foto: Dokumentasi Pemkot Tegal