Adupi, Jakarta – Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi isu yang sangat kompleks. Hingga kini, belum ada penyelesaian sampah yang komprehensif dan holistik di Indonesia.

Padahal Pemerintah menargetkan pengurangan sampah hingga 30 persen dan pengelolaan sampah sampai 70 persen pada 2025. Target tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga (Jakstranas).

Sementara itu, mayoritas TPA kita masih open dumping, kondisinya saat ini ada yang nyaris penuh, penuh hingga over kapasitas. Oleh karenanya dibutuhkan strategi dan inovasi yang brilliant untuk selesaikan sampah yang terus menggunung di TPA.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Daur Ulang Indonesia (Adupi) Wahyudi Sulistya merasa resah dengan kondisi persampahan tersebut. Karenanya, ia berinovasi membuat mesin yang sebutnya “Predator Sampah” untuk memproduksi briket sampah atau sejenis RDF (refuse derived fuel), bahan bakar untuk boiler di pabrik styrofoam miliknya di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Pemerintah sendiri telah meresmikan pabrik RDF, PT Solusi Bangun Indonesia di Cilacap sejak Juli lalu. RDF ini didistribusikan ke pabrik semen Holcim dan Indonesia Power, anak perusahaan PLN.

Sementara itu, founder PT Kemasan Ciptatama Sempurna ini mulai mengoperasikan mesin “Predator Sampah” ala Pasuruan ini sejak April 2020, tetapi risetnya telah dilakukan sejak setahun lalu. Setiap hari mesin yang dirancangnya itu dapat memproses 15 ton sampah basah dan tercampur, kecuali metal dan kaca. Dari bahan baku sebanyak itu menghasilkan 7 ton briket sampah.

“Hanya perlu waktu 45 menit sampah campur masuk ke mesin predator kemudian menjadi briket,” ujar pengusaha yang aktif mendorong ekosistem daur ulang tumbuh di Indonesia.

Menurut dia, 7 ton briket sampah itu masih kurang untuk memenuhi kebutuhan energy bahan bakar dipabriknya. Setiap hari, pabriknya membutuhkan 25 ton batu bara. Sehingga jika ingin mengganti batu bara, maka mesin Predatornya membutuhkan sampah basah sebanyak 65 ton untuk menghasilkan sekitar 25 ton briket sampah.

Ke depan ia berharap pabriknya dapat sepenuhnya menggunakan briket sampah untuk bahan bakar di pabriknya. Sebab batu bara, bahan bakar yang berasal dari fosil ini lama kelamaan juga bisa habis. Oleh karenanya, briket sampah ini menjadi jawaban untuk renewable energy.

Penulis: Eni Saeni
Foto: PT Kemasan Ciptatama Sempurna