Saat ini kantong plastik oxo dan bio degradable marak dipopulerkan oleh toko ritel modern di Indonesia. Kantong plastik ini bahkan di klaim ramah lingkungan. Perusahaan memanfaatkan label greenwashing, serba hijau untuk menjual produknya kepada masyarakat awam.

Willy Tandiyo, Pembina Adupi menyatakan hal itu pada webinar tentang sampah plastik LDU/BDU pada 19 Juni 2020.

Menurut dia, plastik oxo maupun bio bisa terdegradasi melalui lingkungan tertentu, seperti ada sinar matahari, tidak kena air, atau tidak terpendam di tanah. Proses degradasinya tidak serta merta bisa menjadi makanan bagi mikroba bakteri.

Sementara definisi ‘Biodegradasi’ seperti dikutip pada laporan Komisi Eropa 2015, disebutkan sebagai proses dimana materi hancur dan terurai oleh mikroorganisme menjadi unsur-unsur yang ditemukan di alam, seperti CO2, air dan biomassa. Biodegradasi dapat terjadi di lingkungan yang kaya oksigen (biodegradasi aerob) atau di lingkungan yang miskin oksigen (biodegradasi anaerob).

Sementara, oxo-plastik atau plastik yang dapat terurai okso adalah plastik konvensional yang ditambah zat aditif untuk mempercepat fragmentasi bahan menjadi potongan-potongan yang sangat kecil, dipicu oleh radiasi UV atau paparan panas matahari. Karena aditif ini, plastik yang terfragmentasi ini kemudian menjadi partikel plastik, dan akhirnya mikroplastik.

“Lalu siapa yang bisa menjamin bahwa kantongan oxo dan bio yang berkontribusi menghasilkan mikro plastik ini tidak jatuh ke laut, ke udara, atau ke rumput yang bisa termakan oleh ternak? “ tukas Willy.

Willy menjelaskan beberapa negara maju seperti Eropa bahkan Thailand telah melarang penggunaan kantong oxo dan bio plastik ini. Tapi anehnya di Indonesia malah dibiarkan bahkan diberi SNI. Padahal Oxo tidak bisa diaur ulang, arahnya linear economy, return to eart atau kembali ke bumi, bukan circular economy.

Lalu ada juga yang mengklaim bahwa kantong plastiknya adalah composable plastic. Menurut Willy, ini juga sama dengan klaim oxo dan bio plastic. Plastik yang bersifat compostable syaratnya, sebelum dikomposkan, plastik itu harus dipisahkan terlebih dahulu dari zat aditif, nah biaya pemisahan itu terlalu besar.

Kalau sudah dipisah harus dikirim ke TPA khusus, industrial composting facility,. Hingga kini, negara kita belum punya fasilitas tersebut. Itu adalah fasilitas pengomposan yang menggunakan udara panas yang mencapai 60 derajat celcius dengan waktu pengomposan 3 bulan.

Untuk melakukan pengomposan plastik compostable, kata Willy, biayanya mahal, tapi itu kenapa itu dilakukan oleh pemilik brand besar? “karena mereka kewalahan atas permintaan masyarakat yang menginginkan produknya harus ramah lingkungan,” ujarnya.

Jadi apakah itu termasuk kategori greenwashing atau brain washing? Perlu bukti nyata bahwa “plastik ramah lingkungan” tidak sekadar klaim.

Penulis: Eni Saeni