Adupi, Jakarta – Sampah plastik multilayer seperti bekas indomie, sachet shampoo, kopi, pouch dan lain-lain, penyerapannya masih rendah di industri daur ulang. Pemain daur ulang jumlahnya masih belasan dan masih terpusat di Pulau Jawa.

Namun, pabrik-pabrik tersebut masih mengandalkan bahan baku dari aval pabrik kemasan multilayer. Nyaris, sangat jarang pemulung yang memungut sampah plastik multilayer karena nilai ekonominya rendah. Bahkan sangat sedikit pengepul yang mengumpulkan sampah plastik multilayer ini.

Akademisi pun berperan melakukan riset terkait sampah plastik multilayer. Universitas Indonesia bekerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., PT Samudera Montaz, perusahaan kemasan, PT Wasco melakukan uji coba penggelaran aspal plastik di Jalan. Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo di Kampus UI, Depok seluas 241 meter persegi, pada akhir Agustus 2020. Plastik multilayer bekas bungkus mi instant dijadikan bahan campuran untuk aspal plastik tersebut.

Untuk mengetahui lebih jauh apa respon produsen terkait sampah plastiknya dijadikan bahan campuran aspal plastik, adupi.org mewawancara Deni Puspahadi, Head of CSR Dept. PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

Tanya: Uji coba aspal plastik di Universitas Indonesia akhir Agustus lalu menggunakann bahan baku campuran plastik multilayer bekas mi instan. Bagaimana respon Indofood ketika salah satu kemasannya dipakai untuk uji coba tersebut?

Jawab: Kami sangat menyambut baik adanya alternatif lain untuk pemanfaatan sampah kemasan mi instant dan kemasan multilyer seperti menjadi campuran aspal ini, karena tentunya akan semakin membuka peluang alternative pemanfaatan sampah plastic multilayer, yang selama ini masih sulit untuk masuk dalam skema sirkular ekonomi dalam sistim pengelolaan sampah yang ada.. Memang pada kenyataannya, saat ini pemulung kurang tertarik mengumpulkan kemasan mi instant dan kemasan multilyer; hal ini disebabkan karena harga kemasan multilayer masih sangat rendah dan umumnya berat dari plastik multilayer sangat ringan sehingga perlu upaya keras untuk mendapatkan tonase atau volume yang besar.

Tanya: Kenapa sampah multilayer kurang dimintai pemulung dan rantai ekosistem daur ulang?

Jawab: Kita tahu bahwa dari 1 kg kemasan mi instant setara dengan 600 lembar bungkus mi instan. Harga dari pendaur saat ini yang kita jumpai dilapangan berkisar antara Rp 400 per kg dan bila di-press bisa terjual di harga sekitar Rp 550 per kg. Nah, dengan kondisi seperti ini maka jarang ada pemulung, pelapak atau pengepul yang mau mengumpulkannya. Wajar saja, mereka akan memilih material yang lebih mudah dikumpulkan, adanya pasar yang lebih pasti dan memiliki harga jual yang jauh lebih menarik.

Tanya: Ketika harga sampah mulitilayer rendah, apa upaya produsen agar sampah tersebut tetap menarik untuk dikelola?

Jawab: Sebenarnya, kalau kita berhasil mendorong pemanfaatan dari material sampah multilayer ini dan membantu tumbuhnya pasar dari produk-produk yang dihasilkan dari hasil olahan multilayer ini. Sehingga dengan sendirinya nilai dari material akan meningkat dan akan banyak pihak yang mau melakukan pengumpulan multilayer. Kalau ini berjalan dengan baik maka prinsip sirkular ekonomi sudah berperan dalam skema ini. Untuk itu, perlu upaya bersama untuk mencapai hal ini, agak sulit dan memakan waktu lama jika upaya ini hanya dilakukan oleh beberapa perusahaan atau industri.

Tanya: Apa yang sudah dilakukan Indofood terkait edukasi untuk mendukung pengurangan dan pengelolaan sampah, terutama sampah plastik multilayer?

Jawab: Indofood sejak 2015 telah melakukan edukasi ke masyarakat terkait pentingnya pemilahan dari rumah. Juga ke warung-warung yang banyak menggunakan produk-produk Indofood. Perusahaan membangun jaringan pengumpulan dari sumber- sumber tersebut. Tantangannya yang dihadapi tetap sama, yaitu volume yang sangat rendah sehingga membutuhkan waktu lama untuk pengumpulan dan membutuhkan ruang untuk menunggu volume mencapai jumlah minimal untuk dikirim ke pengepul yang lebih besar. Hal ini berakibat kepada biaya pengumpualan yang tinggi dan menjadi kurang menarik bagi pemulung karena mereka membutuhkan pendapatan harian.

Tanya: Program apa yang dilakukan Indofood untuk memanfaatkan kembali sampah kemasan yang dihasilkannya?

Jawab: Sejak 2015, Indofood telah melakukan edukasi pemilahan sampah dan melakukan pembentukan Bank Sampah yang diharapkan menjadi titik pengumpulan sampah kemasan dari masyarakat, Melakukan edukasi dan pengumpulan dari warung dan menjajaki peluang-peluang pengembangan kerjasama dengan pemanfaat atau pendaur seperti REPAL; Rebrick, PLUSTik; melakukan penelitian pemanfaatan kemasan mi instant menjadi filamen untuk 3D printing dan alternative pemanfaatan lainnya. Intinya, kita berupaya mendorong meningkatnya collections dan aktivitas daur ulangnya.

Selain itu untuk memperbesar cakupan kegiatan, meningkatkan impact terhadap upaya2 yang dilakukan serta mendorong terbangunnya system pengelolaan sampah yang holistic dan terintegrasi, Indofood bergabung bersama 5 perusahaan lain seperti (Nestle; Tetra Pak, Unilever, Danone dan Coca Cola) membangun kolaborasi dengan nama PRAISE (Packaging Recovery Associations for Indonesia Sustainable Environment) dan juga ikut berpartisipasi bersama institusi lain seperti PAM Jaya, Indonesia Power dan perusahaan Start Up, Comestoara serta Komunitas Gerakan Ciliwung Bersih.dalam mengembangkan program Tempat Olah Sampah Sungai (TOSS) dengan pendekatan waste to energi.

Tanya: Kenapa multilayer tidak menjadi program utama dan pertama dari aktivitas yang akan dijalankan oleh PRO, sementara kita tahu banyak anggota PRAISE yang menggunakan multilayer?

Jawab: Indofood bersama PRAISE, melalui Packaging Recovery Organization (PRO) project untuk tahap pertama akan fokus pada PET. Hal ini dengan pertimbangan bahwa untuk material PET sudah memiliki jaringan yang baik, sehingga dengan model yang akan dikembangkan oleh PRO nanti kita akan dapat melihat seberapa besar keberhasilannya untuk meningkatkan collection.

Tentunya model yang akan dilakukan oleh PRO dipastikan tidak akan mengganggu apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman Adupi dan berjalan dengan baik saat ini. Tetapi tujuannya adalah untuk melengkapi dan meningkatkan system yang sudah ada serta tentunya upaya untuk meningkatkan collection ini akan menyasar wilayah-wilayah baru yang selama ini belum banyak tersentuh.

Nah, keberhasilan meningkatkan collection rate dari material PET ini yang akan menjadi pembelajaran buat kita untuk kemudian akan diterapkan untuk material-material lainnya seperti UBC, HDPE dan tentunya flexible packaging atau multilayer di tahapan kerja PRO selanjutnya.

Penulis: Eni Saeni
Foto: Doc Indofood