Adupi, Jakarta – Tumpukan karung berisi sampah plastik warna-warni itu teronggok di gudang Bank Sampah Lombok sejak awal tahun 2020. Sampah jenis multilayer itu disetorkan masyarakat ke Bank Sampah Bintang Sejahtera, Lombok, namun ditolak oleh pabrik pendaur ulang.

Syawaludin, pimpinan Bank Sampah Bintang Sejahtera ini bercerita ketika bank sampahnya dan jaringannya berhasil mengumpulkan 6-7 ton sampah plastik multilayer, ia pun bersiap mengirimkan barang tersebut ke pabrik.

Nahas, pabrik daur ulang itu menolak membelinya. Alasannya sudah mendapat bahan baku yang lebih bagus dan lebih bersih dari aval pabrik. Mendengar kabar itu, ia hanya memandang tumpukan sampah multilayer itu. Nafasnya dihela panjang saat itu.

Pikirannya menewarang pada kerja keras teman-teman dalam jaringan bank sampahnya untuk terus mengedukasi masyarakat agar mau memilah plastik multilayer, mengumpulkannya lalu menyetorkannya ke bank sampah. Meski dihargai murah, Rp250 per kilogram, masyarakat senang.

“Masyarakat senang, apabila hasil pilahannya bisa diangkut dan tidak dibuang begitu saja,” ujar Syawal sapaan akrab Syawaludin.

Lalu akan dikemanakan sampah multilayer ini setelah ditolak pabrik?

“Saya akan bawa ke kantor Dinas Lingkungan Hidup, biar mereka menagih tanggung jawab produsen atas sampahnya,” ucap Syawal tegas.

Sah-sah saja pabrik daur ulang memakai bahan baku aval pabrik untuk mengirit cost pembersihan. Tapi, lanjut Syawal, ia melihat produsen sudah “menghianati” ekosistem daur ulang yang dibangun secara mandiri dan tumbuh secara alami.

Kisah Syawal bisa jadi dialami sejumlah bank sampah dan pengepul lainnya di Indonesia. Kenapa ini sampah terjadi?

Menurut Pembina Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia, sampah multilayer numpuk hingga berton-ton tidak jadi dibeli oleh pabrik daur ulang karena nilai ekonomisnya rendah. Semua kegiatan (Daur Ulang Plastik (DUP) berbasis bisnis, ada gula ada semut. Plastik multi layer ini banyak yang berukuran kecil, tidak ekonomis dari sisi bobot. Kalau aval pabrik jangan dipakai sebagai standar DUP, itu bisa menyesatkan karena tidak dibutuhkan “collection”. Padahal collection itu membutuhkan biaya tinggi.

“Faktanya, kalau saya membungkuk sepuluh kali untuk memungut botol, maka jika sepuluh kali itu saya gunakan untuk memungut sachet atau bekas bungkus mi instan, perolehan nilai ekonominya bagai bumi dan langit,” kata Willy.

Selain itu, saat diproses faktor kesusutan sangat sangat besar, hingga 50 persen karena kotoran yang menempel di plastik itu. Multilayer umumnya terdiri dari dua jenis, yaitu multilayer sekeluarga dan multilayer beda keluarga. Yang sekeluarga lebih mudah diproses DU, tapi kalau sudah tersebar di alam, sulit untuk membedakannya.

“Kalau ada yangg bilang bisa mendaur ulang multilayer, tolong ditanya sumber bahannya, kalau dari avalan pabrik, tentu lebih gampang,” ujar dia.

Willy juga mengritisi plastik multilayer dijadikan bahan campuran aspal. Menurut dia, bahan campuran sumber bahan bakunya berasal dari aval pabrik, tidak dipungut di jalan, sehingga tidak bisa disebutkan mewakili sampah multilayer. Lalu bagaimana nasib sampah multilayer yang dipungut pemulung dan dikumpulkan oleh bank sampah?

Selama ini, avalan plastik multilayer dikirim ke pabrik-pabrik daur ulang untuk dibuat tali rafia, itu adalah bahan multilayer sekeluarga, karena yang beda keluarga tentu tidak bisa dibuat tali rafia.

Sebagai kemasan makanan dan kemasan modern, plastik multilayer memang sangat dibutuhkan, tapi bagaimana caranya agar kemasan itu bisa masuk daur ulang?

Willy menjelaskan, selayaknya produsen menggunakan plastik sekeluarga dan dibuat agak tebal. Memang biaya produksinya akan mahal di depan, tetapi DUP akan berjalan seperti botol air mineral saat ini menjadi primadona pemulung dan bank bank sampah karena industri daur ulangnya juga membutuhkan bahan baku tersebut.

Penulis: Eni Saeni
Foto: Dok. Bank Sampah Bintang Sejahtera