Adupi, Jakarta –
– Tim Peneliti Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., secara formal telah yang dimulai pada Maret 2018 dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) antar kedua belah pihak. anyak aktivitas yang telah dilakukan, diantaranya program berkelanjutan terkait isu limbah plastik, seperti penggelaran aspal plastik.

Sebelumnya PT Chandra Asri melalui kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan WASCO telah melakukan penggelaran aspal yang dicampur dengan limbah plastik single layer di beberapa daerah di Indonesia.

Menurut Dr. Mochamad Chalid, Ketua Tim Peneliti, penggelaran aspal campur limbah plastik di UI ini adalah upaya uji coba dengan metode sebelumnya yang dilakukan, namun dicampur dengan limbah plastik multilayer dari kemasan mie instan pada satu ruas dan limbah single layer dari kantong kresek pada ruas lain sebagai pembanding.

Kenapa Multilayer?
Mochamad Chalid menjelaskan, pertama dari sisi teknologi, plastik multilayer adalah material yang relatif sulit untuk didaur ulang. “Misalnya pada bungkus plastik mie instan, saya belum lihat produk olahan jadinya yang siap pakai,” ujar dosen di Fakultas Teknik UI ini.

Kedua, bungkus mie instan terdiri dari lima material, yakni PP (Polypropylene), PE (Polyethylene), tinta, dan BOPP (Biaxially Oriented Polypropylene). Kenapa sampai lima lapis? karena produk yang dikemas tidak bolleh terpapar udara maupun air, sehingga kemasannya harus kedap air maupun udara dari luar.

Ketiga, proses daur ulang limbah plastik multilayer tidaklah mudah, karena masing-masing material memiliki sifat dan titik leleh yang berbeda. Keempat, nilai ekonominya juga rendah, karena nyaris tak ada pemulung atau mengambil sampah bekas mie instan.

Pada rantai pasok daur ulang, hanya limbah yang memiliki nilai ekonomi tinggi (high value) saja yang diambil pemulung, selebihnya berserak di TPA bahkan lingkungan. Limbah yang high value seperti PET (Polyethylene terephthalate), PP, atau HDPE (High-density polyethylene) paling banyak disukai pendaur ulang, karena layak didaur ulang. Pada system daur ulang ada istilah limbah yang Layak Daur Ulang (LDU) dan Bisa Daur Ulang (BDU).

“Limbah plastik multilayer hingga kini relatif tidak banyak peminatnya. Belum bisa dibuat menjadi barang yang bernilai tinggi, karenanya kami jadikan bahan studi,” kata Chalid, pakar teknologi polimer yang menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 bidang Teknologi Polimer di Belanda ini.

Uji coba penggelaran aspal plastik pun dilakukan pada 29 Agustus 2020 di kawasan UI. Ada tiga perusahaan yang mendukung uji coba itu, yakni PT Wasco, perusahaan kontruksi, PT Chandara Asri Petrochemical Tbk., dan PT Samudera Montaz, perusahaan kemasan yang menyediakan limbah plastik multilayer. Uji coba dilakukan di ruas Jalan Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo di kampus UI, Depok seluas 241 meter persegi.

Dari luas jalan tersebut, ada ruas jalan yang diaspal dengan aspal campuran multilayer dan sekian ruas lainnya diaspal dengan menggunakan aspal yang dicampur dengan limbah kantong kresek. Tujuannya, untuk mengetahui ruas mana yang lebih bagus dan lebih kuat ketahanannya. Pada uji coba yang dilakukan bersama Kementerian PUPR, ketahanan aspal plastik kresek meningkat hingga 40 persen.

Bagaimana dengan ketahanan aspal plastik multilayer?
“Dari sisi rekayasa material, penggunaan plastik multilayer pada aspal tentu lebih bagus daripada kantong kresek yang materialnya monolayer,” ucap Chalid. Meski demikian, UI terus berupaya mengembangkan studi-studi lanjutan untuk penguatan material infrastruktur. Salah satunya adalah membuat zat aditif untuk aspal yang dapat memperkuat ketahanan infrastruktur jalan.

Penulis: Eni Saeni
Foto: Koleksi UI