Adupi, Jakarta – Kemasan plastik oxo dengan ecolabel dikritik keras oleh ekosistem daur ulang. Plastik oxo dinilai tidak circular economy dan tak seiring dengan konsep daur ulang.

Willy Tandyo, penasihat Adupi menyatakan bahwa oxo tidak bisa berjalan bareng dengan daur ulang plastik (DUP) dan pemerintah diharapkan mengambil sikap tegas. Jangan ambivalent. DUP berprinsip sebagai Circular Economy, tetapi Oxo itu lebih kearah linear economy dan berpotensi mencemari lingkungan dengan mikro plasti.
k
Kemasan plastik oxo itu juga berlogo ekolabel. Logo tersebut diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Ekolabel, yang bertugas memastikan suatu produk layak menggunakan logo ekolabel multikriteria. Dan Lembaga Verifikasi Ekolabel, yang bertugas menverifikasi klaim produsen atas swadeklarasi pemenuhan aspek lingkungan tertentu.

Terdapat dua jenis ekolabel yang dapat digunakan sebuah produk, yaitu swadeklarasi dan multikriteria. Ekolabel swadeklarasi adalah klaim awal pengusaha atas sebuah produk yang telah memenuhi aspek lingkungan tertentu. Sedangkan ekolabel multikriteria adalah sertifikasi Kementerian Lingkungan Hidup yang menyatakan bahwa suatu produk ramah terhadap lingkungan.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai plastik oxo dan bagaimana ekolabel untuk oxo muncul, Adupi mewawancarai Noer Adi Wardojo, Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Bagaimana ceritanya plastik oxo mendapat logo ekolabel?

Perjalanan plastik oxo itu di Indonesia telah melalui tiga babak. Babak 1, terjadi pada rentang tahun 2015 hingga 2018 yakni, ketika inovasi oxo biodegradable itu muncul pertama kali. Salah satu materialnya terbuat dari tepung singkong, sagu, jagung dan selulosa.

Pada 2018-2019, ketika semakin banyak orang, kelompok atau komunitas menyerukan tentang bahaya plastik. Mulai dari kisah ikan paus mati karena perutnya banyak memakan plastik, banyaknya plastik yang tercecer ke laut lalu berubah menjadi mikro plastik dan dimakan ikan.
Sejak saat itu gonjang-ganjing plastik pun semakin gaduh. Plastik konvensional dimusuhin, seperti, single use plastic seperti keresek dikatakan harus out.

Sementara plastik oxo dalam hitungan minggu bisa terdegradasi menjadi potongan-potongan kecil. Sebelum hancur oleh mikroba, masuk ke laut sehingga menambah mikro plastik, hal itu sudah kita tinjau. Intinya semua sampah termasuk plastik yang nyemplung ke laut, semua bermasalah.
Jadi skenarionya adalah oxo dihadirkan untuk membantu plastik yang masuk ke TPA dapat terurai lebih cepat, sehingga mengurangi volume sampah plastik.

Lalu babak 2, tantangannya berubah. Pada tahun 2019, kita minta produsen oxo untuk menunjukan kalau oxo di TPA benar-benar terurai.


Bagaimana dengan oxo yang mengalir ke laut?

Kalau yang telanjur nyemplung ke sungai, sebelum sampai ke laut harus ditangkap di muara sungai.
Tapi di babak kedua ini kami challenge, dengan metode yang diperbaharui dan dengan kondisi real di TPA. Pada akhir Tahun 2019, terbit Permen KLHK Peta Jalan No. 75 P Tentang Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Nah, ketika babak 2 belum selesai, kita diajak masuk ke babak ketiga setelah turunnya Permen. Pada Permen itu dijelaskan untuk kemasan yang mudah terurai diminta untuk compostable. Standar pengujian compostable bisa dilakukan dengan standar UKM hingga industrial.

Kita tidak bisa melarang teknologi berkembang. Tapi fokusnya adalah mudah terurai. Silakan produsen mau ganti material plastik dengan daun pisang, daun talas, mau pake teknologi bio material, dari sagu, rumput laut, limbah sawit, dan sebagainya, tujuannya adalah dapat diarahkan ke material yang compostable.

Saat ini, kemasan oxo dengan berbagai merek dagang sudah banyak di pasaran, padahal proses pengujian belum selesai?

Suatu material terdegradasi ada tahap psikis dan kimia biologis. Yang disebut oleh orang, bahwa secara fisik oxo mudah terpecah-pecah itu dikhawatirkan, jika materialnya tidak dikumpulkan, maka ia akan mudah lari ke lingkungan.

Plastik jenis Oxo ini akan menambah masalah baru, yakni munculnya mikro plastik?

Kami juga paham, betul tantangannya seperti itu. Mengapa ada kekhawatiran jenis oxo itu menambah mikro plastik di lingkungan. Kita sudah sampaikan dan sudah jelaskan. Mereka paham itu, ini bukan pada tataran di laboratorium yang terbukti oxo bisa terurai dalam kondisi terkontrol. Itulah yang ditunjukan oleh uji lab. Namun faktanya, di Indonesia banyak yang bercecer di lingkungan, jadi de facto resikonya sangat tinggi.

Lalu kenapa oxo diteruskan untuk dipakai di Indonesia, sementara banyak negara telah melarang oxo?

Kalau kemasan yang mudah terurai kita sudah lebih tenang untuk mengurangi sampah plastik. Tapi yang terurai pun bukan bim salabim karena itu perlu waktu. Kami minta produsen oxo untuk menunjukan bahwa teknologinya mengikuti perkembangan zaman, untuk kurangi resiko di lapangan.
Produsen dan retailer yang memilih material oxo wajib melakukan collecting (pengumpulan) sampahnya. Hal itu merujuk pada UU No.18 Tahun 2008. Produsen harus memastikan bahwa pengolahan berikutnya. Produsen juga harus membina bank sampah atau jasa pengolahan sampah untuk mengolah sesuai dengan sifatnya, misalnya jika sampah itu harus terkomposkan atau terdegradasi sepenuhnya.

Jadi jangan berpikir oxo itu bisa terurai di TPA semua. Sebab harus dipilah dan dikumpulkan lalu masuk ke pengolahan berikutnya dan memastikan ia tidak berserak ke lingkungan.


Jadi oxo masih tetap akan digunakan di Indonesia?

Belajar tentang circular economy di Eropa, belum semua circular economy itu perfect. Di Indonesia, ekonomi sirkular menyesuaikan dengan situasi negara yang tropis. Dan, dengan berbagai pertimbangan, melalui Permen KLHK No 75P, tata kelola sampah kemasan itu melalui tiga jalur.

Pertama sampah yang mudah terurai dengan kompostable, kedua, jalur daur ulang, artinya sampah tersebut benar-benar dikumpulkan dan daur ulang. Lalu ketiga, reuse atau digunakan kembali.
Nggak mungkin semuanya didaur ulang, karena sampah juga menyisakan residu yang harus dimusnahkan. Jadi kepada produsen kemasan, saya berikan challenge kepada produsen. Dorongan kami ke circular economy daur ulang.

Tapi ekosistem daur ulang tampak kurang mendapat perhatian dari KLHK?
Kalau ada yang mengusung daur ulang kita optimalkan, daur ulang sampai mentok ayo. Tapi tetap ada, opsi-opsi yang sesuai dengan nalar dan logika masyarakat. Misalnya, ketika kita diminta memilih antara tempe yang dibungkus plastik dan daun pisang, pasti masyarakat akan memilih yang dibungkus daun pisang, meski plastik daur ulang yang dipakainya bagus dan sudah ada kajian LSE (Lembaga Sertifikasi Ekolabel). Saya tentu akan milih tempe yang dibungkus daun pisang, begitu juga produsen plastik akan pilih tempe bungkus daun pisang.

Meski begitu, saya mau dorong circular economy, tingkatkan DU yes, untuk produsen yang sudah ajukan verifikasi tingkat kandungan daur ulang pada plastiknya, tentu kami gembira sekali. Ini bukti sudah muncul produsen plastik yang menggunakan bahan daur ulang, bahan daur ulang dari post consumer. Mereka tidak menggunakan sampah plastik impor, ini kan keren. Kita dorong yang seperti ini.

Masih ada anggapan KLHK tidak dukung daur ulang?

Kita sudah ajak bicara asosiasi daur ulang. Kita belajar dari babak-babak yang terjadi pada oxo. Kalian tidak bermimpi kan diubah jadi oxo semua. Udahlah kita tidak menuju pada menang-menangan atau sikut-sikutan.

Apakah kantongan oxo bisa didaur ulang?
Pada tahun 2015-2016, sudah ada yang melakukannya, bisa sebagai campuran daur ulang. Cuma karena kekhawatiran bahan aktifnya akan mempercepat degradasi dari material plastik menjadi mikro plastik. Sehingga konsep circular economy bisa patah di tengah jalan akibat kena panas dan sebagainya.

Karena resiko itulah, kami minta agar pisahkan jalur kemasan dan material yang mudah terurai. Lakukan treatment sesudahnya. Termasuk yang harus diverifikasi adalah treatment berikutnya bagaimana.

Kami tetap membuka dialog, tanpa memihak, sebab saya harus berdiri di tengah-tengah, berbasis pada kebijakan dan kemajuan ilmu teknologi.

Bagaimana cerita babak ketiga?

Di babak ketiga, produsen kemasan oxo dan retailnya diminta lakukan collecting atau pengumpulan. Jika mereka tidak melakukannya, maka pendaftaran ekolabelnya bisa ditolak karena tidak memenuhi peraturan KLHK. Jadi untuk produsen, siap-siap lakukan pengumpulan, pastikan treatment berikutnya, termasuk daur ulang.

Berapa banyak produsen oxo di Indonesia yang sudah mendapat sertifikat ecolabel?

Saya tidak ingat, tapi silakan untuk teknologi apapun yang digunakan, open to market, tidak ada batasan. Silakan bersaing dari sisi teknologi dan pahami serta ikuti aturannya.

Penulis: Eni Saeni