Adupi, Jakarta – Inovasi kemasan makanan semakin agresif, unik, menarik. Tujuannya selain sebagai kemasan, juga pelindung bagi makanan dari bakteri, kuman, dan udara yang menyebabkan makanan cepat rusak.

Hingga kini, produsen kemasan kertas terus berinovasi. Meski inovasinya tak sejalan dengan sistem daur ulang. Karena, prinsip dasar daur ulang adalah material yang dipakai harus sejenis atau mono material.

Tetapi, di pasaran kita sering menemukan kertas pembungkus berlapis plastik. Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia Henky Wibawa menjelaskan, kertas pembungkus umumnya berlapis PE (Polyethylene). Bungkus kertas ini banyak ditemukan di kertas pembungkus makanan, gelas kertas (paper cups) untuk minuman kopi, teh panas maupun mie instan.

Menurutnya, memang dibutuhkan lapisan PE agar kertas tersebut tahan terhadap cairan panas ataupun minyak yang berasal dari makanan atau minuman. Dengan lapisan plastik, maka cairan tidak mudah terserap oleh kertas.

“Namun masalahnya, kertas berlapis plastik ini tidak bisa dan tidak layak untuk didaur ulang, serta tidak akan mudah terurai atau biodegradable, hanya dapat untuk dibakar dengan proses incinerator,” kata Henky.

Pembuat kemasan terus berinovasi. Dicari bahan pengganti PE agar kertas pembungkus itu dapat didaur ulang. Sampai akhirnya ditemukan pengganti PE yakni bahan coating lilin lebah dan bahan alam lainnya. Tetapi biaya produksinya jauh lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan pelapis PE, sehingga sulit untuk dikembangkankan.

Namun, produsen terus berinovasi dengan teknologi. Hingga ditemukan kertas untuk makanan atau minuman dengan memakai coating PFAS (polyfluoroalkyl substances) dan zat kimia anti minyak. “Tetapi PFAS diketahui sangat berbahaya bagi kesehatan,” ujar Henky.

Penelitian yang dilakukan di tiga negara bagian di Amerika Serikat, kertas yang berlapis PFAS ini bahkan dipakai untuk membungkus makanan burger dan kentang goreng pada gerai-gerai franchise yang terkenal di dunia.

“Padahal zat kimia PFAS ini sangat berbahaya bagi tubuh kita, dapat mencemari air dan tanah, dan dipastikan tidak ramah lingkungan,” kata Henky.

Inovasi tak pernah berhenti, pembuat kemasan terus berupaya melalui teknologi agar untuk menciptakan kemasan makanan yang aman, dapat melindungi makanan agar tidak cepat rusak. Dan, Kita semua berharap agar kemasaan tersebut juga bisa didaur ulang agar circular economy bisa dijalankan untuk memberi kebaikan bagi manusia dan lingkungan.

Penulis: Eni Saeni