Adupi, Jakarta – Pemberian logo ekolabel pada plastik oxo maupun bio dipertanyakan sejumlah kalangan. Mereka menilai, ekolabel tidak tepat diberikan pada oxo maupun bio plastik karena klaim ramah lingkungan tidak terbukti dan masih menyisakan partikel mikro plastik yang mencemari lingkungan.

Henky Wibawa, Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF) mempertanyakan, jika oxo diklaim ramah lingkungan berarti tidak mencemari dan kalau memang benar bisa terurai, kenapa oxo pecah-pecah menjadi partikel, mikro plastik.

“Mikro plastik itu bisa masuk ke air tanah, lalu air itu masuk ke air yang kita minum. Kemudian orang meributkan, apakah itu ramah lingkungan? Justru hadirnya plastik jenis oxo dan bio tidak menyelesaikan masalah lingkungan,” ujarnya.

Sebelumnya, Willy Tandyo, Penasihat Adupi menandaskan bahwa plastik oxo tidak bisa berjalan bareng dengan daur ulang plastik (DUP). Konsep DUP berprinsip sebagai Circular Economy, tetapi Oxo itu lebih ke arah linear economy dan berpotensi mencemari lingkungan dengan menyiskan mikro plastik.

Saat ini di pasaran beredar plastik oxo dengan berbagai merek. Produsennya mengklaim plastik tersebut ramah lingkungan dan compostable atau dapat dijadikan kompos, karena ditambahkan aditif untuk mempercepat proses degradasi plastik melalui mekanisme oksidasi yang dipicu dengan UV, panas, cahaya oksigen dan mechanical stress.

Klaim serupa juga terjadi pada bio plastik, plastik campuran PE (polyethylene) dengan tapioka (pati singkong) ini menurut produsenya mudah terurai secara alami melalui proses biologis.

Ekolabel diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Ekolabel, yang bertugas memastikan suatu produk layak menggunakan logo ekolabel multikriteria. Dan Lembaga Verifikasi Ekolabel, yang bertugas menverifikasi klaim produsen atas swadeklarasi pemenuhan aspek lingkungan tertentu.

Terdapat dua jenis ekolabel yang dapat digunakan sebuah produk, yaitu swadeklarasi dan multikriteria. Ekolabel swadeklarasi adalah klaim awal pengusaha atas sebuah produk yang telah memenuhi aspek lingkungan tertentu. Sedangkan ekolabel multikriteria adalah sertifikasi Kementerian Lingkungan Hidup yang menyatakan bahwa suatu produk ramah terhadap lingkungan.

Menurut Henky, konsep ekolabel itu produk itu wajib tidak mencemari setelah dibuang, tidak menghasilkan emisi karbon dan dalam memproduksinya tidak menggunakan energi yang terlalu besar. Tapi ekolabel di Indonesia, tidak mengacu pada hal tersebut, ia hanya menjelaskan self declaration atau swa deklarasi dari produsennya.

“Swa deklarasi itu sesuatu yang dibuat-buat karena tidak ada standar pengetesan international, sehingga SNI ekolabel kita itu belum maksimal mengacu pada standar internasional,” ucap Henky.

Lalu, bio plastik yang dicampur dengan saripati singkong itu dasarnya apa untuk menyatakan bahwa produk itu ramah lingkungan. “Apakah mudah terurai, atau compostable?” tanyanya.

Ekolabel yang sebenarnya, lanjut Henky, harus melalui pengetesan standar internasional, yakni mengacu pada ASTM (America Standard test method) 6400. Dimana ada pengukuran kekuatan, penguraian, compostable dan sebagainya.

“Jadi kalau hari ini ada produsen yang klaim bio itu compostable, nggak masuk akal, karena pada plastik oxo dan bio itu ada kandungan PE, bagaimana PE bisa jadi kompos?” kata Henky.

Henky juga meluruskan pernyatan mengenai oxo dan bio plastik yang bisa didaur ulang? Menurut dia, bagaimana PE dicampur dengan Saripati singkong kemudian didaur ulang. Apakah resin yang sudah didaur ulang dan sudah terkontaminasi bisa dipakai lagi.

“Bicara daur ulang, produk itu bisa dipakai lagi. Kalau sudah tercemar bagaimana bisa reuse (diguna ulang)?” kata dia.

Ilustrasinya adalah kantong keresek yang bisa didaur ulang berkali-kali itu dibuat dari material daur ulang. Lalu ia dibikin warna hitam karena materialnya dari plastik bekas yang berwarna. Kalau tidak diberi warna hitam akan terlihat kotor dan nggak ada orang yang mau pakai. Dengan diberi warna hitam, keresek itu bisa dipakai kembali.

Penulis: Eni Saeni