Adupi, Jakarta – Mesin Predator Sampah yang diciptakan Wahyudi Sulistya, Sekjen Adupi sejak April lalu mulai bekerja. Mesin ini mampu mengubah sampah basah menjadi briket sampah ataui RDF (refuse derived fuel).

Metode kerja mesin ini sangat sederhana. Sampah basah dicacah di dalam mesin, lalu dimasukan ke mesin pemerasan, sampai kadar airnya tinggal 30 persen. Air perasan itu kemudian diolah menjadi pupuk organik cair.

Selanjutnya, sampah yang sudah diperas itu dimasukan ke rotary dryer untuk dikeringkan hingga kadar airnya hanya 8-10 persen. Lalu dimasukan ke mesin pengolah briket.

“Hanya dalam tempo 45 menit, sampah tersebut menjadi briket dan siap dipakai untuk bahan bakar boiler di pabrik,” kata Wahyudi Sulistya, Sekjen Adupi pada Jumat, 28 Agustus 2020.

Berdasarkan hasil tes Sucofindo, briket yang dihasilkan kalorinya adalah 4100. Kalau mau ditambah kalorinya, tinggal menambah sampah plastik yang tidak masuk ke pabrik daur ulang.

Sejak aturan pelarangan penggunaan single used plastic (SUP), seperti kresek, sedotan dan Styrofoam oleh pemerintah daerah, maka, plastik tersebut bisa menjadi bahan baku briket. Plastik yang tak masuk siklus daur ulang seperti multi layer pun bisa selesai dengan mesin Predator Sampah ini.

Sejatinya, Wahyudi tidak setuju dengan aturan pelarangan tersebut, karena plastik yang dilarang adalah plastik yang bisa masuk ke siklus daur ulang. Tetapi karena informasi yang masuk ke pemerintah keliru, sehingga menghasilkan kebijakan yang tak sejalan dengan konsep circular economy.

Wahyudi menceritakan bahwa Predator Sampah yang menghasilkan briket itu dapat dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk boiler di pabriknya, PT Kemasan Ciptatama Sempurna . Meski bahan bakar ini menyisakan abu, tetapi abunya masih bisa diolah menjadi pupuk organik padat.

Jadi dari pengolahan briket ini kita punya produk turunan pupuk cair dan pupuk organik padat. Wahyudi tidak menjual pupuk organic tesebut, tapi diberikan kepada petani yang membutuhkan.

Ia mengungkapkan, untuk merancang mesin predator sampah yang dimulainya sejak awal tahun 2020 itu menghabiskan dana Rp3 miliar dari kocek pribadinya. Ia mengakui, hingga kini, masih terus menyempurnkan mesin Predator Sampah yang dibangunnya di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur.

Meski demikian, sudah banyak lembaga dan instansi pemerintah yang datang ke pabriknya untuk melihat langsung cara kerja mesin Predator Sampah itu. Diantara mereka banyak yang tertarik untuk mengaplikasikannya di daerahnya.

Ia berharap, Predator Sampah ada di setiap TPS3R di setiap kecamatan. Untuk mengoperasikan mesin ini dibutuhkan 600 meter persegi. Sehingga sampah yang dibuang ke TPA hanya residu. Hal itu juga untuk mengurangi beban TPA yang mayoritas sampahnya over kapasitas.

Ketika keresahannya terjawab, Wahyudi mengatakan bahwa ia hanya mencari alternative untuk menyelesaikan persoalan sampah. Menurutnya dengan briket sampah, dapat membangun ketahanan energy, ketahanan pangan, melindungi konservasi tata air dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Saya berharap muncul ide-ide kreatif lainnya untuk menyelesaikan persoalan sampah dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” kata Wahyudi.

Penulis: Eni Saeni
Foto: KCS