Produsen daur ulang plastik mengharapkan insentif fiskal agar industri dan konsumen terdorong beralih mengunakan produk plastik daur ulang.

Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) Christine Halim menjelaskan industi daur ulang plastik di Indonesia melalui proses yang sangat panjang dan menyerap banyak tenaga kerja.

Sistem manajemen sampah yang buruk di Tanah Air membuat pabrik pendaur ulang plastik harus mengandalkan rantai pasokan bahan baku yang panjang. Proses daur ulang di Indonesia mengandalkan banyak tenaga kerja untuk mengumpulkan, memilah, hingga membersihkan plastik bekas pakai.

Bahan baku berasal dari sampah plastik yang dikumpulkan pemulung ke pengepul kemudian diteruskan ke penyortir, penjual peletan plastik, hingga berakhir ke gudang pabrik.

“Berbeda dengan di luar negeri. Jadi pemulung misalnya satu orang paling banyak bisa mengumpulkan 50 kilogram per hari. Dari sana distribusinya masih panjang. Sistem ini membuat bahan baku menjadi mahal,” jelas Christine kepada Bisnis, Rabu (20/4/2016).

Dia mengatakan beban industri daur ulang plastik dalam beberap tahun terakhir semakin berat seiring dengan penurunan tajam harga minyak mentah.
Harga minyak yang murah membuat harga resin plastik merosot tajam dan membuat plastik daur ulang sulit bersaing dengan plastik produksi baru.

Christine meminta pemerintah memberikan insentif pajak untuk meningkatkan daya saing produk plastik daur ulang atas produk plastik baru.