Adupi, Jakarta – Istilah sampah plastik Layak Daur Ulang (LDU) dan Bisa Daur Ulang (BDU) yang akrab di kalangan pendaur ulang, tapi belum banyak dipahami oleh produsen, pemegang merek dan masyarakat. Padahal dengan memahami istilah ini dan mengimplementasikannya maka, sampah plastik bisa dikembalikan pada lingkaran ekonomi.

Willy Tandiyo, Pembina Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia menyatakan hal tersebut pada webinar sharing persampahan yang digelar oleh Adupi, TPST dan Bank Sampah Malang pada Jumat, 19 Juni 2020.

Willy menjelaskan, LDU dan BDU adalah suatu kondisi dari sampah plastik, baik dari aval pabrik maupun aval sampah, baik by design atau akibat salah penanganan. Bahan dalam kondisi LDU adalah bahan yang mempunyai nilai ekonomi cukup bagus untuk di daur ulang.

Sedangkan bahan dalam kondisi BDU adalah bahan yang secara teknis bisa didaur ulang, tapi sedikit atau tidak menguntungkan bahkan bisa merugikan. Sehingga tidak banyak pendaur ulang yang menyerap sampah plastik BDU untuk didaur ulang.

Menurut Willy, hingga kini masih ada produsen kemasan dan pemegang merek tidak menyadari kemasan plastiknya masuk kategori BDU atau LDU. Karena mereka hanya mengacu plastiknya bisa didaur ulang.
Bahkan dengan mencantumkan kode recycle seperti R1 hingga R-7, produsen kemasan itu beranggapan sudah melakukan penyelamatan lingkungan, meski kemasannya multi layer. Padahal kemasan sachet multilayer masuk kategori BDU dan menjadi problem sendiri bagi lingkungan.

“Pemulung lebih suka mungut botol plastik daripada sachet karena nilai ekonominya tidak ada,” ujar Willy.

Kemasan sachet itu memiliki penyusutan yang besar karena ada residu. Sifat produknya ada yang tenggelam dan ada yang mengapung di air. Padahal hingga kini, belum ada mesin yang bisa memproses produk untuk keduanya sekaligus. Selain itu pembersihan dan sortirnya juga menyulitkan.

“Kita mengerti tidak semua kemasan bisa diarahkan ke multilayer sejenis, kecuali alasan medis dan pertahanan keamanan, tapi itu kan jumlahnya nggak banyak,” kata Willy.

Menurut dia, jika masyarakat memahami sampah plastik LDU dan BDU, maka mereka juga dapat memperlakukan sampah itu dengan baik. Misalnya, agar sampah botol saos dari bahan plastik itu masuk kategori LDU maka, sebelum dibuang botolnya dibersihkan dari saos, dilepaskan dari label dan tutupnya. Dalam kondisi LDU, maka sampah tersebut akan dihargai lebih tinggi dibanding sampah kotor.

Begitu sampah plastik LDU, bisa menjadi BDU karena salah penanganan. Misalnya sampah botol dibuang dengan masih ada isinya, labelnya masih melekat dan tutupnya tidak dipisahkan, serta masuk ke landfill dan bercampur dengan sampah lainnya. Dalam kondisi kotor sampah LDU itu menjadi sampah BDU. Sehingga harganya menjadi lebih murah dibandingkan dengan sampah LDU.

Kresek dari TPA yang sudah di prewash dan dipisahkan dari kantong plastik ber-oxo juga masuk kategori sampah LDU. Karena kriteria LDU adalah jika bahan plastik itu tidak membutuhkan subsidi dan dalam proses daur ulangnya dapat mempertahankan kualitas plastik setinggi mungkin.

“Jika Bank Sampah bisa memperlakukan sampah plastik agar ia menjadi LDU, maka Bank Sampah itu akan mendapatkan keuntungan ekonomi lebih baik dari sampah yang dijualnya. Perbedaannya, misalnya sampah botol bersih dihargai Rp8000, sedangkan yang kotor bisa setengahnya,” ucap Willy.


Penulis: Eni Saeni