Adupi, Jakarta – Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) mendorong agar Good Manufacturing Practices atau GMP RPET (recycled Polyethylene terephthalate) tidak hanya fokus pada plastik jenis PET. Tapi semua jenis plastik mulai dari plastik berkode R-1 hingga R-6 juga diatur dalam GMP.

“Tidak hanya PET. Nggak fair dong, produk plastik untuk makanan itu kan bisa dari PP, HD, PS, atau yang masuk kode R1 hingga R6,” kata Wahyudi Sulistya, Sekjen Adupi menanggapi rencana Kementerian Perindustrian akan menerbitnya GMP RPET tahun ini.

Plastik yang bisa di daur ulang, diatur dalam kode seperti, R-1 atau recycled PET (polyethylenen terephthalate); R-2 HDPE (High-density polyethylene); R-3 PVC (Polyvynil chloride); R-4 LDPE atau PE-LD (Low-density polyethylene, Linear low-density polyethylene); R-5 PP (Polypropylene), PS (Polystyrene) dan R-7 other atau O.

Untuk R-7 adalah plastik dengan material multilayer, yang terdiri dari berbagai plastik atau campuran plastik dengan bahan lain. Plastik kategori other itu antara lain acrylic, nylon, polycarbonate dan polylactik acid, seperti bioplastik yang merupakan campuran plastik dengan bahan saripati nabati.

Menurut Wahyudi, plastik dengan kode R-1 hingga R-6 bisa didaur ulang. Sehingga harus ada regulasi yang mengatur GMP-nya misalnya, berapa persen konten material daur ulang untuk dimasukan dalam kemasan makanan agar tetap terjaga higienitasnya. Kecuali plastik dengan kode R-7 sulit di daur ulang.

“Jika ada regulasinya, maka akan banyak plastik yang bisa didaur ulang dan ini akan mengembangkan industri daur ulang tumbuh di Indonesia,” kata dia.

Menurut dia, jika Kemenperin hanya fokus GMP RPET, nanti ketika ada usulan untuk plastik dengan kode R1 hingga R-6, perlu pembahasan lagi. “Ini sama saja dengan ngabis-ngabisan anggaran, kenapa nggak semua plastik yang bisa didaur ulang dibahas GMP-nya,” tukas Wahyudi.

Seperti kita tahu, Asosiasi Pengusaha Air Minum Kemasan atau Aspadin mengajukan GMP RPET ke Kementerian Perindustrian sejak 7 tahun lalu, namun hingga sekarang regulasi tersebut belum juga diterbitkan. Kemenperin rencananya akan menerbitkan regulasi tersebut tahun ini.

Wahyudi mempertanyakan, kalau cara kerjanya lama seperti itu, butuh waktu berapa lama untuk merumuskan GMP R-1 hingga R-6? “Satu kode plastik aja 7 tahun, kalau 6 kode isa 42 tahun baru kelar, kelamaan itu,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Daniel Lawrence, Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik (Adupi) Jabodetabek. Menurut dia, jika GMP RPET dan semua jenis plastik di terapkan GMP, khususnya untuk kadar material daur ulang yang terkandung pada kemasan, secara umum akan menguntungkan pendaur ulang dan ekosistem daur ulang, seperti pemulung dan pengepul.

Dengan begitu maka value plastic scrap bisa ditingkatkan, tapi masalahnya adalah cost production atau biaya produksinya bisa lebih tinggi jika memakai bahan daur ulang.

“Saat ini tidak semua industri plastik mendesign mesinya dengan technology recycle. Artinya perlu ada tambahan mesin atau supporting-nya,” kata Daniel.

Namun Daniel setuju, jika GMP memayungi semua plastik berkode bisa didaur ulang, dan tidak fokus pada satu jenis plastik saja. Hal itu untuk menumbuhkan dan mengembangkan industri daur ulang yang juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi, sosial dan penyelamatan lingkungan.

Penulis: Eni Saeni